“Dhuh Gusti, Ingkang Kawula Purugi Sinten Malih? Paduka Ingkang Kagungan Pangandikaning Gesang Langgeng”

Kamis, 29 Agustus 2019

P E N E G A S A N




IKATAN KELUARGA BESAR PANGERAN COKROKUSUMO (IKBPC) adalah lembaga berbadan hukum bagi keluarga besar trah Pangeran Cokrokusumo, sebagaimana tersebut dalam SK Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No : AHU-0004759.AH.01.07.TAHUN 2019, tanggal 25 April 2019.

Logo tersebut di atas adalah satu-satunya yang diakui dan disahkan oleh Yayasan Kesultanan Bangkalan dengan Surat Pengesahan tanggal 15 September 2018 juncto Surat Pengesahan tanggal 06 Maret 2019, dan secara kelembagaan hanya Lembaga IKBPC satu-satunya yang diakui dan disahkan oleh Yayasan Kesultanan Bangkalan, sebagaimana Surat Penegasan Tentang IKBPC tanggal 30 April 2019.

Sebagai satu-satunya lembaga yang diakui dan disahkan, maka IKBPC sekaligus sebagai satu-satunya anak lembaga dari Yayasan Kesultanan Bangkalan. Dengan demikian IKBPC adalah satu-satunya lembaga trah Pangeran Cokrokusumo (R. Abdurrasid) yang berafiliasi dengan Yayasan Kesultanan Bangkalan, sehingga bagi Yayasan Kesultanan Bangkalan tidak ada dualisme lembaga dalam tubuh trah Pangeran Cokrokusumo (R. Abdurrasid).

Apabila di dalam tubuh trah Pangeran Cokrokusumo (R. Abdurrasid) ada Lembaga lain selain IKBPC dan menggunakan Logo selain Logo tersebut di atas, maka itu di luar tanggungjawab Yayasan Kesultanan Bangkalan.

Agar hal ini dapat menjadi perhatian, baik bagi Keluarga Besar Pangeran Cokrokusumo maupun bagi khalayak umum.

#####&&&#####

Kamis, 07 Februari 2019

SILSILAH LELUHUR



Clip video Silsilah Leluhur dari Brawijaya V sampai kepada
Pangeran Cokrokusumo dan putra-putrinya.

Selasa, 10 Juli 2018

Mojowarno - Jombang :

REUNI PERDANA KELUARGA BESAR
PANGERAN COKROKUSUMO



Pangeran Cokrokusumo adalah putra ke-25 dari Sultan Bangkalan II (Sultan Cakraadiningrat II / R. Abdul Kadirun) dengan Istri ke-V (Ratu Knoko). Lewat putranya R. Paing Karolus Wiryoguno, setelah mendapat ijin yang sah dari Residen Surabaya PJB de Perez - melakukan babad Hutan Keracil dan mendirikan desa-desa di Mojowarno, Mojoroto, Mojowangi, dan sekitarnya. Di kemudian hari melakukan pembangunan Gereja, Rumah Sakit, Sekolah Pertukangan, dan sebagainya.

Sumber Video >>  https://youtu.be/3LUbPGU37IE

Rabu, 30 Mei 2018

TELAH TERBIT BUKU BARU :



Yang berminat :

Tersedia di  Bukalapak
                    Shopee








SERAT RAMA KAWULA
Klik Gambar untuk memperbesar

Minggu, 27 Mei 2018

SEJARAH AWAL MOJOWARNO


        Selama ini runtutan atau mata rantai sejarah yang dijadikan dasar untuk menguraikan historisitas tidak sampai pada sumbernya, yaitu pelaku sejarah. Seharusnya, untuk memperoleh kebenaran sejarah sebisa mungkin mengumpulan data sampai kepada pelaku sejarah, atau minimal sampai pada orang yang hidup pada jaman yang paling dekat dengan jamannya pelaku sejarah, semua akan menjadi sumber primer. Tak mengherankan jika Karolus Wiryoguno, pelaku sejarah, tokoh penting dan utama dalam sejarah Mojowarno, seakan diabaikan begitu saja.
            Mencermati tentang babad Hutan Keracil, maka harus dapat dipisahkan pengertian babad Hutan Keracil dan babad lahan Mojowarno. Mojowarno adalah lahan yang merupakan bagian dari Hutan Keracil. Sesuai kesepakatan, Mojowarno diserahkan kepada Ditotruno, Mojowangi untuk Eliasar Kunto dan Mojoroto untuk Karolus Wiryoguno. Di samping itu, ketika kita berbicara masalah Hutan Keracil dan Mojowarno, maka perspektif kita haruslah memandang Mojowarno pada saat peristiwa sejarah itu terjadi, bukan dengan perspektif saat ini. Karena Mojowarno yang sekarang adalah Mojowarno yang terdiri dari beberapa desa. Jika hal ini dipaksakan, maka yang ada cuma penjelasan yang carut-marut - yang terjebak pada kesalahan fatal.

Baca Selengkapnya >>
1. https://archive.org/details/MENYINGKAPTABIRSAM
2. https://www.academia.edu/36691336/MENYINGKAP_TABIR_SEJARAH_AWAL_MOJOWARNO.pdf
3. https://id.scribd.com/document/379888065/Menyingkap-Tabir-Sejarah-Awal-Mojowarno

Jumat, 25 Mei 2018

SEJARAH RIYAYA UNDHUH-UNDHUH MOJOWARNO


Riyaya Undhuh-undhuh adalah hari raya persembahan yang berasal dan tumbuh dari kelompok Kristen. Hari raya ini tumbuh menjadi tradisi sekitar tahun 1930, setelah Jemaat Mojowarno menyatakan diri menjadi Jemaat dewasa pada tahun 1923. Kebiasaan ini dinilai baik untuk mendukung kemandirian jemaat lalu menular ke jemaat sekitarnya.
Ciri khas Riyaya Undhuh-undhuh di Jemaat Mojowarno sampai saat ini tetap dipertahankan. Ciri khas tersebut yaitu berupa bentuk bangunan persembahan yang dirangkai/dibentuk dari hasil bumi, lalu diarak oleh seluruh warga (anak, remaja dan orang tua) ke gereja induk dengan meriahnya. Tidak mengherankan jika pemerintah kabupaten Jombang memperhatikan, mendukung serta memasukkan tradisi ini sebagai asset pariwisata budaya daerah.
Manuskrip : “Permulaan Orang Kristen Ngoro Menerima tanda Baptis pada tahun 1853”, oleh Simsim Mestoko, Pamulang Jemaat Ngoro th. 1903 (diterjemahkan ibu Madoedari Wiryoadiwismo) halaman 3, 4 :
Sesudah kepergian Kyai Yakobis, pangkat lurah digantikan Ditotruno. Belum lama kemudian dia diusir oleh Coolen, tetapi bukan Karena baptis, ia berlaku curang (tidak jujur / jw. Ngenthit), masalahnya waktu disuruh membeli kerbau harga yang dilaporkan lebih dari yang sebenarnya. Selain dia ada 2 orang lagi yang diusir oleh Coolen karena memiliki kesalahan lain yaitu Kyai Enos Singotruno dan Kyai Yakup”.

Kamis, 24 Mei 2018

PANGERAN COKROKUSUMO (R. ABDURRASID)

Disalin oleh : WIRYO WIDIANTO

R. Abdurrasid alias Pangeran Cokrokusumo adalah putera Sultan Cokroadiningrat II atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sultan Bangkalan II. Dia adalah anak yang ke-7 (tujuh) dari 13 (tiga belas) bersaudara yang lahir dari Ibu: R.A. Knoko. Bila dihitung dari keseluruhan putra Sultan Cokroadiningrat II, Abdurrasid tercatat sebagai anak ke-25 (dua puluh lima) dari 46 (empat puluh enam) orang anak.
            Abdurrasid dilahirkan di Bangkalan pada tahun 1778 dan dibesarkan dalam lingkungan Kesultanan. Setelah cukup dewasa, ia dididik ilmu keprajuritan dan ilmu tata negara sebagaimana layaknya para putera raja (Sultan) .
Sesuai kebiasaan masyarakat pada saat itu, Abdurrasid juga mencari ilmu-ilmu kebatinan dan kanuragan. Berguru pada orang-orang ”pandai”, bertapa di gua-gua, di hutan-hutan dan di gunung adalah pekerjaannya sehari-hari. Hal ini untuk meningkatkan pertahanan diri dalam menghadapi ancaman, baik secara fisik maupun mistik yang saat itu masih sangat dipercayai. Lebih-lebih pada jaman itu sering terjadi pertikaian dan peperangan antar kelompok atau kerajaan akibat ulah pemerintah Belanda yang melakukan taktik ”adu domba” .